Minggu, 15 Juli 2012

RANCANGAN DAMAI SEJAHTERA

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)
 
Yeremia adalah putra seorang imam, ia lahir dan dibesarkan di desa Anatot, desa para imam yang berjarak 6 km di timur laut dari Yerusalem. Ia memulai pelayanan sebagai nabi pada tahun ke-13 pemerintahan raja Yosia yang baik dan ia ikut mendukung gerakan pembaharuan Yosia, namun gerakan itu tidak menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh dalam hati bangsa Israel sehingga Yeremia mengingatkan bahwa jika tidak ada “pertobatan nasional sejati”, pertobatan yang sunggguh-sungguh secara menyeluruh, maka hukuman dan pemusnahan akan datang secara tiba-tiba. Nubuat Yeremia tergenapi! Tahun 612 SM, Asyur dikalahkan oleh suatu koalisi Babel. Sekitar empat tahun setelah kematian raja Yosia, Mesir dikalahkan oleh Babel pada pertempuran di Karkemis (thn 605 SM). Pada tahun yang sama pasukan Babel di bawah pimpinan raja Nebukadnezar menyerang Palestina, merebut Yerusalem  dan membawa sebagian pemuda pilihan dari Yerusalem ke Babel, diantaranya Daniel dan ketiga sahabatnya. Penyerbuan kedua ke Yerusalem tahun 597 SM, sekitar 10.000 orang di bawa dan ditawan, diantaranya Yehezkiel. Nubuat Yeremia yang memperingatkan tentang hukuman Allah tidak diperhatikan. Tahun 586 SM, adalah akhir kehancuran Yerusalem, Bait Suci, dan seluruh kerajaan Yehuda.

 Firman Tuhan ini ditulis oleh nabi Yeremia (pada saat itu ia ada di Yerusalem), kepada tua-tua, imam-imam, nabi-nabi dan seluruh rakyat Israel yang ditawan dan diangkut oleh raja Nebukadnezar (pada penyerbuan kedua) dari Yerusalem ke tempat pembuangan di Babel . Surat ini dikirim melalui perantaraan Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia, yang diutus oleh raja Zedekia yang saat itu sebagai raja Yehuda, kemungkinan setahun atau dua tahun setelah rakyat Isreal ditawan  dan berada di pembuangan. Isi suratnya antara lain:
1.    Bangsa Israel harus hidup secara normal, membangun rumah, mengusahakan kesejahteraan atau kemakmuran kota, di mana Allah menempatkan mereka (di tempat pembuangan), karena mereka tidak akan kembali ke tanah perjanjian hingga genap 70 tahun.
2.    Mereka tidak boleh mendengarkan nabi palsu yang meramalkan bahwa masa pembuangan itu akan singkat.
3.    Mereka yang tertinggal di Yerusalem (tidak ikut tertawan), akan menderita dengan hebat oleh hukuman Allah karena mereka tetap memberontak terhadap Allah.
4.    Dua nabi palsu (Ahab bin Kolaya dan Zedekia bin Maaseya) akan dibunuh karena hidup dalam perzinahan dan memalsukan Firman Allah.
5.   Pada akhir 70 tahun penawanan, kaum sisa itu akan sungguh-sungguh mencari Allah dan dipulihkan; Ia akan menjawab  doa mereka karena rencana-rencana-Nya indah bagi mereka.

      Firman Tuhan ini bukan hanya berlaku kepada bangsa Israel saja tetapi kepada kita juga. Walaupun apa yang kita alami tidak sama persis seperti yang dialami bangsa Israel, tetapi ada kesulitan-kesulitan dalam hidup kita, mungkin itu sakit penyakit, kesulitan ekonomi, pengangguran, kebangkrutan, dipecat dari pekerjaan, dibenci, diperlakukan tidak adil atau sewenang-wenang,dan lain sebagainya, semua itu Tuhan izinkan terjadi karena Tuhan mempunyai maksud dari hal-hal tersebut. Bangsa Israel menderita 70 tahun lamanya di tempat pembuangan karena mereka memberontak kepada Tuhan Allah, tetapi Allah berjanji bahwa setelah melewati masa yang ditentukan Allah, Allah akan  mengembalikan mereka ke tanah perjanjian dan memberikan masa depan yang penuh harapan.  Mereka akan dipulihkan jika sungguh-sungguh bertobat dan mencari Allah.  Allah kita adalah Allah yang Adil, ia menghukum” umat-Nya”  jika mereka melakukan kesalahan atau pelanggaran,  tetapi ada saatnya di mana Ia mengembalikan keadaan umat-umat-Nya pada keadaan yang menjadi tujuan atau rancangan-Nya. Rancangan  Allah sangat jelas,  rancangan damai sejahtera bukan rancangan kecelakaan. Masa depan yang Tuhan Allah rancangkan adalah masa depan yang penuh harapan, karena Tuhan adalah sumber pengharapan kita. Ia selalu merancangkan hal yang baik bagi setiap orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Amin! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar