“Oleh sebab itu jikalau orang
panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, tetapi hendaklah ia ingat
akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya. Segala sesuatu yang datang
adalah kesia-siaan. Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu
bersuka pada masa mudamu, turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu,
tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke
pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari
tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan. Akhir kata dari
segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada
perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah
akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu
yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” (Pengkhotbah 11:8-1)
Di dalam kitab ini Salomo berbicara kepada
kita semua, segala sesuatunya mengenai kehidupan. Perlu diketahui bahwa
perjalanan yang dilakukannya telah membuatnya tertekan,
lemah dan penuh kekecewaan. Kata yang
banyak diucapkannya adalah: "Kesia-siaan belaka…!"
Segala sesuatu adalah sia-sia. Itulah cara Salomo menggambarkan apa yang
dirasakannya setelah selesai mengadakan “perjalanan”... yang tak satupun
memberinya kepuasaan. Mengapa demikian? Bukankah ia seorang raja yang tak
pernah kekurangan, kebutuhan sehari-harinya tidak akan pernah habis? Mengapa ia
tidak mendapatkan sesuatu yang menjadi keinginannya hatinya?
Salomo
menyebutkan sudut pandangannya yang cenderung
“mendatar” tidak melihat ke atas. Hampir setiap bagian catatannya,
digunakannya kata-kata ‘”di bawah langit”, “di bawah matahari”. Ketika
seseorang mencari kebahagiaan dan meninggalkan gambaran pribadi Tuhan, maka
segalanya nampak tidak memuaskan, dan tidak akan pernah mendapatkan kepuasaan
itu. Kepuasaan dalam kehidupan di bawah langit ini tak akan pernah
terwujud tanpa adanya suatu hubungan penuh
arti dengan Tuhan yang berada di atas langit. Dengan melihat catatan Salomo
kita akan mengetahui betapa beratnya perjuangan seseorang yang berusaha untuk
menemukan arti dan keputusan dalam hidup. Dalam separuh catatannya yang
pertama, sang raja banyak mencatat krisis yang ada dalam separuh kehidupannya.
Dengan jujur ia mencatat, betapa membosankan dan tidak ada apa-apanya segala
penyelidikannya itu. Ia berkata: “Tidak ada gunanya…tak ada sesuatupun yang
patut diingat.” Meskipun demikian, ia
masih pergi juga untuk mencari, ia memutuskan untuk menemukan sesuatu di bawah
kolong langit ini yang dapat memberi kepuasan. Hedonisme (menikmati segala
kesenangan duniawi), itu yang dicobanya. Tertawa, memiliki banyak istri, koleksi seni, dan lain-lain, adalah usaha untuk mendapatkan kebahagiaan,
namun semuanya kosong. Semua perjalanan itu mula-mula mengesankan, namun pada
akhirnya adalah kehampaan belaka. Filsafat manusia tidak akan menuntun manusia
ke arah yang lebih baik, kecuali ke arah kebingungan yang makin mendalam.
Sungguh suatu gambaran yang cocok tentang begitu banyak orang yang bersusah
payah membangun keberadaan dirinya. Kisah para bintang tenar, penghibur, atlit
professional dan pengusaha terkemuka, begitu memilukan, penuh penderitaan dan
keputusasaan. Johny Cash atau Jon Belushi, Elvis Presley atau Howard Hughes,
Mercury Morris, Bob Hayes atau Henderson, dan masih banyak lagi..
Tak satupun yang dapat memberi kepuasaan selama terbatas pada “kehidupan di bawah kolong langit.” Salomo menekankan pembacanya untuk tidak membuang waktu sia-sia untuk pencarian sesuatu yang tidak ada gunanya (seperti yang telah dilakukannya..), namun yang terutama dalam hidup ini adalah mengadakan hubungan yang erat dengan Tuhan yang hidup, saat ini, bahkan untuk seterusnya.
Tak satupun yang dapat memberi kepuasaan selama terbatas pada “kehidupan di bawah kolong langit.” Salomo menekankan pembacanya untuk tidak membuang waktu sia-sia untuk pencarian sesuatu yang tidak ada gunanya (seperti yang telah dilakukannya..), namun yang terutama dalam hidup ini adalah mengadakan hubungan yang erat dengan Tuhan yang hidup, saat ini, bahkan untuk seterusnya.
Catatan: Salomo menulis kitab Kidung
Agung ketika masih berusia muda, menulis kitab Amsal pada usia setengah tua dan
kitab Pengkhotbah pada tahun-tahun akhir hidupnya (sudah tua). Pengaruh yang
bertumpuk dari kemerosotan rohani, penyembahan berhala, dari hidup memuaskan
dirinya pada akhirnya membuat Salomo kecewa dengan kesenangan dan materialisme
sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan. Kitab Pengkhotbah mencatat renungan-renungan sinisnya tentang
kesia-siaan dan kehampaan usaha menemukan kebahagiaan hidup terlepas dari Allah
dan Firman-Nya. Ia telah merasakan kekayaan, kuasa, kehormatan, ketenaran, dan
kesenangan sensual—semua secara melimpah—namun semua itu akhirnya merupakan
kehampaan dan kekecewaannya saja. “Kesia-siaan belaka! Kesiaan-siaan
belaka!...segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh.1:2). Tujuan utamanya dalam
menulis Pengkhotbah adalah menyampaikan semua penyesalan dan
kesaksiannya kepada orang lain sebelum ia wafat, khususnya kepada kaum muda,
supaya mereka tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya.
Ia membuktikan untuk selama-lamanya, kesia-siaan melandaskan nilai-nilai kehidupan seseorang pada harta benda duniawi dan ambisi pribadi.
Sahabat! Sekalipun orang muda harus menikmati masa muda mereka (Pkh.11:9-10), namun yang lebih penting adalah mengabdikan diri kepada Sang Pencipta dan bertekat untuk berpegang pada perintah-perintah-Nya. Itulah satu-satunya jalan untuk menemukan makna hidup!
Ia membuktikan untuk selama-lamanya, kesia-siaan melandaskan nilai-nilai kehidupan seseorang pada harta benda duniawi dan ambisi pribadi.
Sahabat! Sekalipun orang muda harus menikmati masa muda mereka (Pkh.11:9-10), namun yang lebih penting adalah mengabdikan diri kepada Sang Pencipta dan bertekat untuk berpegang pada perintah-perintah-Nya. Itulah satu-satunya jalan untuk menemukan makna hidup!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar