Rabu, 31 Oktober 2012

MANUSIA DENGAN PERSPEKTIFNYA


“Oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, tetapi hendaklah ia ingat akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya. Segala sesuatu yang datang adalah kesia-siaan. Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan. Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” (Pengkhotbah 11:8-1)

  Di dalam kitab ini Salomo berbicara kepada kita semua, segala sesuatunya mengenai kehidupan. Perlu diketahui bahwa perjalanan yang dilakukannya telah membuatnya tertekan, lemah dan penuh kekecewaan. Kata yang  banyak diucapkannya adalah: "Kesia-siaan belaka…!" Segala sesuatu adalah sia-sia. Itulah cara Salomo menggambarkan apa yang dirasakannya setelah selesai mengadakan “perjalanan”... yang tak satupun memberinya kepuasaan. Mengapa demikian? Bukankah ia seorang raja yang tak pernah kekurangan, kebutuhan sehari-harinya tidak akan pernah habis? Mengapa ia tidak mendapatkan sesuatu yang menjadi keinginannya hatinya?
Salomo menyebutkan sudut pandangannya yang cenderung  “mendatar” tidak melihat ke atas. Hampir setiap bagian catatannya, digunakannya kata-kata ‘”di bawah langit”, “di bawah matahari”. Ketika seseorang mencari kebahagiaan dan meninggalkan gambaran pribadi Tuhan, maka segalanya nampak tidak memuaskan, dan tidak akan pernah mendapatkan kepuasaan itu. Kepuasaan dalam kehidupan di bawah langit ini tak akan pernah terwujud  tanpa adanya suatu hubungan penuh arti dengan Tuhan yang berada di atas langit. Dengan melihat catatan Salomo kita akan mengetahui betapa beratnya perjuangan seseorang yang berusaha untuk menemukan arti dan keputusan dalam hidup. Dalam separuh catatannya yang pertama, sang raja banyak mencatat krisis yang ada dalam separuh kehidupannya. Dengan jujur ia mencatat, betapa membosankan dan tidak ada apa-apanya segala penyelidikannya itu. Ia berkata: “Tidak ada gunanya…tak ada sesuatupun yang patut diingat.”  Meskipun demikian, ia masih pergi juga untuk mencari, ia memutuskan untuk menemukan sesuatu di bawah kolong langit ini yang dapat memberi kepuasan. Hedonisme (menikmati segala kesenangan duniawi), itu yang dicobanya. Tertawa, memiliki banyak istri, koleksi seni, dan lain-lain, adalah usaha untuk mendapatkan kebahagiaan, namun semuanya kosong. Semua perjalanan itu mula-mula mengesankan, namun pada akhirnya adalah kehampaan belaka. Filsafat manusia tidak akan menuntun manusia ke arah yang lebih baik, kecuali ke arah kebingungan yang makin mendalam. Sungguh suatu gambaran yang cocok tentang begitu banyak orang yang bersusah payah membangun keberadaan dirinya. Kisah para bintang tenar, penghibur, atlit professional dan pengusaha terkemuka, begitu memilukan, penuh penderitaan dan keputusasaan. Johny Cash atau Jon Belushi, Elvis Presley atau Howard Hughes, Mercury Morris, Bob Hayes atau Henderson, dan masih banyak lagi.. 
     Tak satupun yang dapat memberi kepuasaan selama terbatas pada “kehidupan di bawah kolong langit.”  Salomo menekankan pembacanya untuk tidak membuang waktu sia-sia untuk pencarian sesuatu yang tidak ada gunanya (seperti yang telah dilakukannya..), namun yang terutama dalam hidup ini adalah mengadakan hubungan yang erat dengan Tuhan yang hidup, saat ini, bahkan untuk seterusnya.

Catatan: Salomo menulis kitab Kidung Agung ketika masih berusia muda, menulis kitab Amsal pada usia setengah tua dan kitab Pengkhotbah pada tahun-tahun akhir hidupnya (sudah tua). Pengaruh yang bertumpuk dari kemerosotan rohani, penyembahan berhala, dari hidup memuaskan dirinya pada akhirnya membuat Salomo kecewa dengan kesenangan dan materialisme sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan. Kitab Pengkhotbah mencatat  renungan-renungan sinisnya tentang kesia-siaan dan kehampaan usaha menemukan kebahagiaan hidup terlepas dari Allah dan Firman-Nya. Ia telah merasakan kekayaan, kuasa, kehormatan, ketenaran, dan kesenangan sensual—semua secara melimpah—namun semua itu akhirnya merupakan kehampaan dan kekecewaannya saja. “Kesia-siaan belaka! Kesiaan-siaan belaka!...segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh.1:2). Tujuan utamanya dalam menulis Pengkhotbah adalah menyampaikan semua penyesalan dan kesaksiannya kepada orang lain sebelum ia wafat, khususnya kepada kaum muda, supaya mereka tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya. 
Ia membuktikan untuk selama-lamanya, kesia-siaan melandaskan nilai-nilai kehidupan seseorang pada harta benda duniawi dan ambisi pribadi.
   Sahabat! Sekalipun orang muda harus menikmati masa muda mereka (Pkh.11:9-10), namun yang lebih penting adalah mengabdikan diri kepada Sang Pencipta dan  bertekat untuk berpegang pada perintah-perintah-Nya. Itulah satu-satunya jalan untuk menemukan makna hidup!









Tidak ada komentar:

Posting Komentar